Abit Adya Mubakhit

(Saya ada karena saya membaca dan saya menulis karena saya ada)

MODEL PEMBELAJARAN SOSIODRAMA

Tinggalkan komentar

A.    Pendahuluan

Student Centre Learning (SCL) tampaknya sedang menjadi buah bibbir di Indonesia. Pembelajaran yang ideal mennurut paradigma SCL adalah pembelajaran yang membuat siswa aktif di dalam kelas. Proses transformasi dalam pembelajaran ini berjalan dua arah, dari guru ke peserta didik, peserta didik ke guru dan antarpeserta didik. Guru dalam paradigma pendidikan ini memegang peranan sebagai fasilitator, yang mendorong dan menerima otonomi siswa, investigasi bertolak dari data mentah dan sumber-sumber primer (bukan hanya buku teks), menghargai pikiran siswa, dialog, pencarian, dan teka-teki sebagai pengarah pembelajaran.

Kenyataan yang terjadi bahwa pembelajaran yang terjadi di ruang-ruang kelas masih didominasi pembelajaran dengan sistem tradisional. Secara tradisional, pembelajaran telah dianggap sebagai bagian “menirukan”suatu proses yang melibatkan pengulangan siswa, atau meniru-niru informasi yang baru disajikan dalam laporan atau quis dan tes. Moteode pembelajaran yang terjadi pada Teacher Center Learning adalah model ceramah. Transformasi ilmu hanya satu arah dari guru ke peserta didik. Pembelajaran terjadi monotone dan membosankan bagi siswa.

Beradasarkan keprihatinan atas fenomena yang terjadi tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang pendidik diharapkan mampu untuk mengoperasikan beberapa metode inovatif dalam peristiwa belajar mengajar. Selain itu guru diharapkan mampu untuk berinovasi dalam merancang metode pembelajaran yang menyenangkan. Pada makalah ini kita akan membahas tentang model sosiodrama sebagai salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran

B.     Model Pembelajaran Sosiodrama

a. Pengertian Sosiodrama

Sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahan yang menyangkut hubungan antara manusia seperti masalah kenakalan remaja, narkoba, gambaran keluarga yang otoriter, dan lain sebagainya. Sosiodrama digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkannya (Depdiknas: 23).

Sociodrama is a learning method that creates deep understanding of the social systems that shape us individually and collectively (Brown, 2005) artinya Sosiodrama adalah metode belajar yang menciptakan pemahaman yang mendalam mengenai sistem sosial yang membentuk kita secara individu dan kolektif.

“sociodrama” is a dramatic enactment of real life situations or conflicts that often go unresolved. Sosiodrama adalah diberlakukannya dramatis situasi kehidupan nyata atau konflik yang belum terselesaikan.

Trefingger (dalam Waluyo: 2001) membatasi sosiodrama a group problem solving enactment that focuses on a problems involving human relation dalam sosiodrama ini masalah hubungan antar manusia merupakan yang ditonjolkan.

Berdasarkan beberapa defenisi tersebut dapat ditarik benang merah bahwa metode pembelajaran sosiodrama adalah model pembelajaran bermain peran dengan mendramatisasi kehidupan nyata atau konflik yang belum terselesaikan dan sistem sosial yang membentuk kita secara individu dan kolektif.

b. Peranan Sosiodrama

Ada beberapa peranan sosiodrama (Husniah:2011). Berikut merupakan deskripsi mengenai peranan sosiodrama:

a)      menanamkan jiwa demokratis dan memupuk partisipasi kolektif dalam pengambilan keputusan.

b)      Membekali siswa tentang kecakapan hidup di Masyarakat.

c)      Meningkatkan rasa percaya diri pada siswa dan memupuk keterampilan berbicara di hadapan umum.

d)     Mempertinggi perhatian siswa terhadap esensi dan materi pembelajaran

e)      siswa tidak saja mengerti persoalan sosial psikologis,tetapi mereka juga ikut merasakan perasaan dan pikiran orang lain bila berhubungan dengan sesamamanusia, seperti halnya penonton film atau sandiwara, yang ikut hanyut dalam suasana film seperti, ikutmenangis pada adegan sedih, rasa marah, emosi, gembira dan lain sebagainya.

f)       Siswa dapat menempatkan diri pada tempat orang lain dan memperdalam pengertian mereka tentang orang lain.

 

Tujuan Sosiodrama

Dapat dikatakan bahwa teknik sosiodrama lebih tepat digunakan untuk mencapai tujuan yang mengarah pada :

a)      Aspek afektif motorik dibandingkan pada aspek kognitif, terkait dengan kehidupan hubungan sosial. Sehubungan dengan itu maka materi yang disampaikan melalui teknik sosiodrama bukan materi yang bersifat konsep- konsep yang harus dimengerti dan dipahami, tetapi berupa fakta, nilai, mungkin juga konflik-konflik yang terjadi di lingkungan kehidupannya.

b)      Melalui permainan sosiodrama, konseli diajak untuk mengenali, merasakan suatu situasi tertentu sehingga mereka dapat menemukan sikap dan tindakan yang tepat seandainya menghadapi situasi yang sama. Diharapkan akhirnya mereka memiliki sikap dan keterampilan yang diperlukan dalam mengadakan penyesuaian sosial.

d. Implikasi  pada Pembelajaran Sosiodrama

Pada pembelajaran sosiodrama guru lebih bersifat sebagai fasilitator.
Fasilitator merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran dengan model  sosiodrama. Guru dalam pembelajaran ini bisa bertindak sebagai aktor, sutradara atau penonton. Peranan Fasilitator dalam pembelajaran ini menyampaikan sebuah prolog memperkenalkan topik yang disesuaikan dengan audiens yang spesifik. kemudian memperkenalkan para aktor dan memberikan gambaran dari TKP. Selama aksi dan antar-tindakan, fasilitator memandu peserta dan juga mengarahkan dan mengendalikan aktor untuk memastikan semua tema dibahas. Terdapat  delapan langkah yang dianjurkan Torrance (dalam Waluyo: 2001) dalam mengefektifkan sosiodrama untuk  menghadapi problem dan tantangan

  1. Menetapkan problem
  2. Mendeskripsikan sosial  konflik
  3. Pemilihan pemain
  4. Memberikan penjelasan dan pemanasan bagi aktor dan pengamat.
  5. Memerankan situasi tersebut.
  6. Memotong adegan (jika aktor meniggalkan peran dan tidak dapat di teruskan. Membuat kesimpulan. Jia pemimpin tidak dapat melihat perkembangan adegan dapat diganti.
  7. Mendiskusikan, menganalisis situasi kelakuan dan gagasan yang diproduksi.
  8. Menusun rencana untuk testing lebih atau implementasi gagasan baru (Treffingger: 1982. 62-63)

Ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan oleh guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran sosiodrama (www.syntactsolutions.com).

  1. Guru sebagai fasilitator memulai pembelajaran dengan memberi gambaran singkat mengenai situasi. Situasi ini meliputi suatu profesi atau budaya. Pada proses ini biasanya siswa sebagai aktor melakukan pengenalan karakter dan mengatur panggung, masing-masing dari sudut pandangnya sendiri.
  2. Setelah aktor atau siswa membangun karakter  dan situasi, guru sebagai fasilitator bersikap lebih pasif dengan membiarkan siswa untuk berimprovisasi.
  3. Pada akhir sosiodrama, fasilitator akan membuat kunci “poin pembelajaran” berdasarkan apa yang telah terjadi dan tentang subjek di tangan. Para penonton diajak untuk terlibat baik fasilitator atau aktor dalam diskusi.

Untuk mempermudah dalam praktik pembelajaran Husniah (2011) merinci prosen pembelajaran sosiodrama menjadi

  1. Awal pembelajaran guru memperkenalkan aturan main dari model pembelajaran yang akan digunakan kepada siswa.
  2. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok
  3. Guru mengarahkan siswa untuk menentukan tema dan skenario yang meliputi situasi, masalah, peristiwa dan latar.
  4. Siswa secara bergantian memerankan drama yang telah disiapkannya.
  5. Guru sebagai sutradara (fasilitator) dapat menghentikan drama (apabila esensi atau pokok yang akan dibahas telah dicapai)
  6. Guru mengarahkan pada diskusi. Pada proses inii guru dan siswa memberikan komentar, kesimpulan, atau catatan mengenai topik yang diangkat dalam sosiodrama dan tanggapan mengenai penampilan siswa.
  7. j.        Kelebihan dan Kekurangan dalam Sosiodrama

Setiap model pembelajaran ada kebaikan dan ada kelemahannya. Kebaikan model pembelajaran biasanya merujuk  pada potensi yang menjadikan suatu model tersebut berhasil dilakukan,  sedangkan kekurangan merujuk pada potensi kemungkinan hal yang membuat model pembelajaran ini gagal untuk dipraktikkan.

Berikut merupakan kelebihan dari metode pembelajaran Sosiodrama:

a)      berkesan dna tahan lama dalam ingatan siswa.

b)      Sangat menarik bagi siswa sehingga kelas menjadi dinamis dan antusias.

c)       Mengembangkan kreativitas siswa (dengan peran yang dimainkan siswa dapat berfantasi)

d)     Memupuk kerjasama antara siswa.

e)      Menumbuhkan bakat siswa dalam seni drama.

f)       Siswa lebih memperhatikan pelajaran karena menghayati sendiri.

g)      Memupuk keberanian berpendapat di depan kelas.

h)       Melatih siswa untuk menganalisa masalah dan mengambil kesimpulan dalarn waktu singkat.

Berikut merupakan kelemahan yang terdapat dalam pembelajaran dengan metode sosiodrama:

a)  Memerlukan waktu yang cukup panjang

b)  Memerlukan daya kreativitas dan daya kreasi tinggi. Hal ini belum tentu dimiiliki guru dan siswa

c)   Siswa malu untuk melakukan suatu adegan.

d)   Pendengar (siswa yang tak berperan) sening mentertawakan tingkah laku pemain sehingga merusak suasana.

e)   Apabila bila sosiodrama gagal maka tujuan pembelajaran tidak dicapai

f)    Tidak semua materi dapat dilakukan dengan metode ini.

k.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sosiodrama

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi model sosiodrama (Husniah:2011). Di antaranya adalah faktor guru, siswa dan bahan. Berikut merupakan penjelasan dari faktor-faktor tersebut.

a) aktor guru

Guru tidak diperkenankan untuk bersifat apriori. Setiap individu (siswa) akan menghayati dan memahami fenomena sosial dengan caranya sendiri. Apa yang ia lakukan, keputusan apa yang akan dipilih merupakan kebebasan dari pemeran.

b) Siswa

Dramatisasi ini akan berhasil apabila siswa dapat menjiwai perannya.dapat bertingkah laku sebagaimana dalam situasi sesungguhnya.

c) Bahan

Sesuatau yang akan didramatisasikan dikatakan bagus apabila terdapat kesesuaian bahan dengan pemerannya. Kriteria pemilihan bahan harus disesuaikan antara lain:

1)  Bahan harus sesuai dengan perkembangan jiwa siswa

2)  Bahan harus memperkaya pengalaman sosial siswa

3)  Bahan harus cukup mengandung sikap dan perbuatan yang akan didramatisasikan siswa

4) Bahan tidak mengandung adegan yang bertentangan dengan nilai pancasila, agama, dan kepribadian bangsa.

C.    Penutup

  1. Metode pembelajaran sosiodrama adalah model pembelajaran bermain peran dengan mendramatisasi kehidupan nyata atau konflik yang belum terselesaikan dan sistem sosial yang membentuk kita secara individu dan kolektif
  2. Peranan sosiodrama:  menanamkan jiwa demokratis, membekali siswa tentang kecakapan hidup di masyarakat, meningkatkan rasa percaya diri pada siswa, mempertinggi perhatian siswa terhadap esensi dan materi pembelajaran
  3. Tujuan sosiodrama yakni menyentuh aspek afektif dan kognitif peserta didik
  4. Implikasi dalam pembelajaran.
  5. Faktor-faktor yang mempengaruhi sosiodrama: faktor guru, faktor siswa dan faktor bahan.

Daftar Pustaka

Browne, Rollo. 2005. Towards A Framework For Sociodrama. A thesis presented to the Board of Examiners of the Australia and New Zealand Psychodrama Association Incorporated in partial fulfilment of the requirements toward certification as a sociodramatist.

Depdiknas. 2008.  Strategi Pembelajaran dan  Pemilihannya. Jakarta:  Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal

Husniah, Nur Aqlia. 2011. Penerapan Metode Sosiodrama Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dalam Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (Ski) Kelas IV B Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Sukun Malang Penerapan Metode Sosiodrama Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (Ski) Kelas IV B Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Sukun Malang. Malang: Skripsi UIN Maulana Malik Ibrahim

What is a Socio Drama?  Common Questions and Answers: http://www.syntactsolutions.com/html/sociodrama.html

 

http://id.shvoong.com/social-sciences/counseling/2182171-sosiodrama/#ixzz1nDNPWH1y

Waluyo, Herman J. 2001. Drama Teori Pengajarannya. Yogyakarta: Hanindita

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.